Mulai dari Pegiat Komunitas Hingga Profesional Isi Kelas Inspirasi Smong Box

BANDA ACEH – Banyak keseruan yang tidak mungkin terlewat begitu saja saat kegiatan Smong Box yang diprakarsi UPTD Museum Tsunami Aceh saban minggu.

Mulai akhir Oktober, gelaran Smong Box rutin digelar dua kali selama seminggu. “Karena banyak sekolah yang ikut serta, jadi seminggu kini kita gelar dua kali baik hari Kamis dan Selasa,” ujar Koordinator Museum Tsunami Hafnidar, Selasa (29/10/2019).

Pada gelaran hari Selasa, giliran SMPN 2 Banda Aceh dan MTs Darul Hikmah yang menjadi peserta Smong Box.

Tidak heran, kehadiran peserta di Museum Tsunami Aceh ini banyak yang beranggapan bahwa museum hanyalah tempat dimana benda-benda bersejarah disimpan.

Namun anggapan itu hilang setelah mereka mengikuti kegiatan Smong Box.

“Mereka menjadi tahu bahwa ada sisi edukasi yang dapat dipelajari, salah satunya Museum Tsunami bisa menjadi tempat evakuasi saat terjadi bencana yang mampu menampung lebih kurang 3500 orang di rooftop museum,” sebut Hafni.

Dalam edisi ke-7 tersebut, pelajar juga mendapatkan kelas inspirasi yang diisi oleh Satria Wardhana, pegiat Komunitas Rumput Liar yang banyak berbagi tentang pendidikan kebencanaan kepada para pelajar pada sesi motivasi, inspirasi dan berbagi pengalaman.

Sementara itu, pada edisi ke-8 Smong Box yang berlangsung Kamis (31/10/2019) diikuti oleh SMPN 1 Mesjid Raya Krueng Raya dan MTSN Model Jambo Tape Banda Aceh juga tidak kalah menariknya menghadirkan dr Meilya Silvalila Sp.EM.

Dokter spesialis emergensi yang kesehariannya bekerja di RSU Zainal Abidin, Ambulance, dan Kedokteran Bencana ini memberikan kelas inspirasi terkait “Tata Laksana Emergensi di Kehidupan Sehari-hari”.

Dalam sesi tersebut, pelajar juga diajarkan mengenal bencana, mengenal berbagai macam jenis luka, cara mengobati nya dan praktek langsung tindakan pertolongan pertama yang tepat pada seseorang yang tersedak dan pada korban henti jantung.

“Secara bergantian adek-adek memperagakan bagaimana kompresi dada kepada pasien. Karena saya bawa 2 patung sebagai alat peraga,” ujar dr Meilya yang juga dosen Fakultas Kedokteran Universitas Syiah Kuala.

Kesempatan bersama dr Meilya ini juga membuat pelajar sangat tertarik, mereka bisa belajar dari seorang dokter spesialis emergensi yang sangat jarang ditemui, bahkan dr. Meilya satu-satunya dokter spesialis emergensi di Aceh dan baru ada 3 orang di Sumatera.

Di kelas workshop sendiri, pelajar yang mengikuti Smpong Box juga tidak kalah seru. Ada Alifia Humaira, Hafid dari MTSN Model Banda Aceh dan Naja Mumtazia dari SMPN1 Mesjid Raya Krueng Raya yang semangat mempresentasikan benda (koleksi) dalam box (kotak).

Ceritanya mereka menemukan sebuah benda pada saat tsunami, dan berniat ingin menyumbangkan benda tersebut ke Museum Tsunami agar lebih terawat dan dijaga, menjadi sebuah koleksi yang bisa dipamerkan.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *